SAVIOUR SYNDROME : KETIKA MENJADI BERLEBIHAN DALAM SIFAT MENOLONG

SAVIOUR SYNDROME

KETIKA MENJADI BERLEBIHAN DALAM SIFAT MENOLONG

Teman anda sedang mengalami kesulitan bertubi-tubi dalam hidupnya, orang tuanya bercerai, dia baru saja dipecat dari pekerjaannya, usaha sampingannya bangkrut ditipu orang, dan pacarnya meninggalkannya. Anda merasa iba padanya hingga setiap hari anda mengunjunginya, menyemangatinya, membawakannya makanan enak.
Lebih dari itu, anda juga mulai bolos kerja dan menjual motormu untuk menolong keadaan ekonomi dia. Sebenarnya anda tidak begitu dekat dengannya, dia pun tidak pernah meminta tolong padamu karena dia masih bisa meminta uang dari ayahnya. Dia pun masih punya motivasi untuk memperbaiki hidupnya. Hanya saja, anda merasa harus menolongnya setiap hari, anda bilang padanya bahwa kebetulan pekerjaan sedang tidak banyak deadline makanya anda bisa menemaninya.
Namun sebenarnya siapakah yang butuh ditolong? Apakah dia? Ataukah anda menolong untuk memenuhi harga dirimu?
Savior complex ada kaitannya dengan perilaku menolong yang dilakukan orang pada umumnya. Bagi yang jarang mendengar istilah savior complex, semoga tulisan kali ini dapat membantu Anda untuk memahami hal tersebut.
Apa Itu Savior Complex?
Istilah savior complex erat kaitannya dengan perilaku menolong. Seperti yang sudah diketahui oleh hampir semua orang, bahwa perilaku menolong adalah suatu hal yang positif. Akan tetapi, istilah savior complex juga terkait dengan sebuah masalah. Mereka yang mengalami ini cenderung mencari orang-orang yang membutuhkan pertolongan, bahkan sampai mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Mereka yang terkena savior complex merasa bahwa menolong orang merupakan suatu kebaikan dan harus dilakukan. Mereka merasa baik dengan menolong orang tanpa berharap balasan. Namun, seringkali pertolongan yang diberikan kurang sesuai karena tidak adanya komunikasi dua arah antara orang yang mau menolong dengan orang yang menerima bantuan.
Seperti contoh kasus di atas, Anda sudah susah payah membantu. Bantuan yang diberikan bertujuan agar pasangan Anda lolos ujian masuk ke kampus ternama. Namun, sebenarnya pasangan Anda tidak membutuhkan bantuan Anda untuk ujian masuk ke kampus ternama. Sejak awal, pasangan Anda memang sudah tidak berminat untuk ikut ujian tersebut dan Anda baru mengetahuinya ketika Anda mulai putus asa untuk menolongnya.

Kuncinya : Diri Sendiri

Menolong itu suatu perbuatan yang baik dan harus dijadikan sebagai kebiasaan. Namun, ada kalanya menolong harus berhenti dilakukan. Ada batasan agar perilaku menolong tidak menimbulkan perasaan tidak berguna dan ketergantungan.
Akui saja bahwa di antara Anda, ada yang pernah merasa gagal setelah menolong orang. Gagal dalam artian, orang yang Anda tolong tidak menjadi lebih baik keadaannya. Perlu Anda ketahui, bahwa niatan menolong Anda tidak bekerja jika orang yang Anda tolong tidak mau ditolong. Selain itu, hanya diri mereka sendiri yang dapat merubah keadaanya lebih baik. Jadi, ketika Anda merasa gagal dalam menolong orang, itu bukan salah Anda.
Menolong entah itu dalam bentuk memotivasi atau memberi semangat, bukanlah kata kerja yang memiliki makna yang sama dengan mengubah. Bagaimanapun juga, perubahan seseorang tergantung pada dirinya sendiri. Harus Anda pastikan juga bahwa pertolongan Anda tidak memberi ketergantungan kepada orang yang Anda tolong.
Beri waktu sejenak untuk mereka yang ingin Anda tolong untuk berpikir dan merasa susah dengan kondisi dirinya yang tidak baik. Jika memang dia membutuhkan bantuan Anda, maka ia akan datang dengan sendirinya. Kepedulian dan kebijaksanaan Anda dibutuhkan di sini, maka cerdaslah dalam menolong!

Mengenal Savior Complex

Selama ini, sosok pahlawan yang menyelamatkan Anda dari situasi sulit sering diibaratkan sebagai ksatria berkuda putih. Oleh karena itu, savior complex juga memiliki sebutan lain, yaitu white knight syndrome.
Savior complex itu sendiri adalah anggapan bahwa tindakan tolong-menolong yang dilakukan secara berlebihan bisa memperbaiki masalah dari orang yang ditolong. Padahal, belum tentu orang yang hendak ditolong benar-benar membutuhkan bantuan atau ingin ditolong.
Tak jarang, mereka yang punya kelainan savior complex cenderung memaksakan kehendak untuk membantu targetnya. Saking berlebihannya, si pelaku savior complex bahkan tidak memiliki cukup energi untuk mengerjakan urusannya sendiri.

Ciri-ciri Orang dengan Savior Complex

Pada awalnya, tak ada yang terlihat salah dari perilaku berbuat baik secara berlebihan. Namun, lama-kelamaan terlihat perbedaan dari orang yang ingin tulus membantu dengan orang yang ingin menolong tapi untuk menguntungkan dirinya sendiri. 
Seorang psikolog dari Washington DC, Maury Joseph, mengungkapkan bahwa kecenderungan dari orang dengan savior complex adalah mereka melibatkan fantasi “kemahakuasaan”. Atau dengan kata lain, Anda yakin seseorang di luar sana mampu membuat semuanya jadi lebih baik, dan orang itu adalah Anda. 
Tidak hanya itu, beberapa ciri lain yang dapat dikenali dari orang dengan savior complex selain tolong-menolong secara berlebihan meski tanpa diminta adalah:
  • Tertarik dengan Kerentanan Seseorang 

Pelaku savior complex akan mendekati orang yang sedang punya banyak masalah. Itu bisa terjadi karena mereka memiliki empati yang besar atau pernah merasakan masalah yang sama.
Tak mau rasa sakit itu juga menyerang korban, orang dengan savior complex biasanya langsung sergap menolong. 
  • Selalu Ingin Mengubah Seseorang

Joseph berpendapat, pelaku savior complex percaya bahwa mereka punya kekuatan untuk memengaruhi orang lain. Berpikir bahwa mereka selalu tahu yang terbaik untuk orang lain juga bisa menjadi ciri-cirinya. 
Pada dasarnya, setiap orang tidak akan berubah seutuhnya (dari negatif ke positif atau sebaliknya) jika itu bukan atas kemauan sendiri. Tapi, orang dengan savior complex berpikir bahwa mereka benar-benar bisa mengubah orang lain. 
  • Selalu Perlu Menemukan Solusi

Tak semua masalah atau pertanyaan punya jawaban. Kadang, Anda butuh waktu untuk menemukan hal tersebut.
Sama seperti ketika sedang curhat, terkadang Anda hanya ingin didengar tanpa perlu mendapat saran. Apalagi, jika saran yang diberikan terkesan tidak relevan atau sulit diwujudkan (tidak realistis).
Meski tak diminta, orang dengan savior complex biasanya langsung menyuruh lawan bicaranya untuk mengikuti semua solusi yang ia berikan.
Padahal, akan lebih baik jika Anda bertanya terlebih dulu, seperti butuh bantuan atau tidak, sebelum benar-benar memberikan pertolongan terhadap masalah yang dihadapi. 
  • Sering Mengorbankan Diri Sendiri

Ikhsan Bella PersadaM.Psi, Psikolog dari KlikDokter mengatakan bahwa pelaku savior complex sampai rela mengorbankan diri sendiri demi menolong orang lain, sekalipun orang yang hendak dibantu tidak benar-benar dekat atau membutuhkan bantuan.
“Contoh, mereka (pelaku savior complex) bisa sampai menjual barang-barangnya demi memberikan uang buat orang yang ingin ditolong,” kata Ikhsan.
“Mereka bahkan rela sakit hanya demi membantu orang yang sebenarnya, mungkin, tak perlu dibantu. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang bisa membantu, makanya mereka bertindak seperti itu,” sambungnya.

Perlukah Savior Complex Diobati?

Orang baik kok mesti diterapi? Mungkin itu yang sempat terbesit di pikiran Anda. Tapi, ingat, apapun yang berlebihan bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan.
Sejatinya, perilaku savior complex dapat menjadi bumerang bagi pelakunya sendiri. Sebab, perilaku baik dari orang dengan savior complex ini cenderung tidak sehat.
Pada awalnya, dia ingin membantu karena tak tega melihat kerentanan pada orang lain. Tapi, ujung-ujungnya, bantuan berlebihan yang diberikan justru hanya untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, Ikhsan menyarankan, orang dengan savior complex perlu mendapat terapi dari psikolog. 
Terapi dapat membantu mereka dari trauma atau peristiwa masa lalu yang membuatnya berbuat seperti sekarang. Dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, rasa tidak berguna akibat peristiwa masa lalu akan sirna dan perilaku savior complex lambat laun akan menghilang. 

Komentar

Postingan Populer